by

Waspada Bahaya Poligami: Merusak Bangsa Hingga Sebabkan Penyakit Kelamin Menular

Ketakutan Tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI), Dipa Nusantara (DN) Aidit akan bahaya besar poligami bagi masa depan Indonesia mungkin ada benarnya. Sejumlah riset dan penelitian juga membuktikan, praktik poligami merusak tatanan hidup rumah tangga. Sebenarnya apa saja dampak poligami yang sangat mematikan kehidupan bangsa dan negara?

Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia, Meutia Hatta, mengatakan bahwa anak-anak yang lahir dari perkawinan poligami berpotensi kehilangan daya juang dalam meraih cita-cita mereka. Ini adalah fakta selain pasangan perempuan yang bakal menderita.

“Anak-anak juga menderita sehingga kehilangan daya juang dalam memenuhi cita-cita dan harapannya untuk maju,” kata Meutia dalam diskusi ilmiah daring bertajuk ‘Poligami di Tengah Perjuangan Mencapai Ketangguhan Keluarga, Masyarakat dan Bangsa’ yang dipantau di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut dia, prestasi anak-anak bisa terhalang rasa frustasi dan kecewa sehingga menghambat kemampuan mereka untuk maju. Bahkan ada yang sampai putus sekolah karena ketiadaan biaya akibat penghasilan ayahnya yang harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan para istri dan anak-anak.

Itu sebabnya profesor antropologi yang juga putri dari Proklamator RI tersebut menyatakan menyesalkan adanya upaya mempopulerkan poligami yang didasarkan interpretasi budaya yang keliru mengenai makna ayat Alquran.

“Jika poligami seperti ini terus dipopulerkan dan ditanggapi oleh masyarakat awam yang lengah terhadap bahaya praktik poligami, masalah bangsa akan semakin berat,” kata dia.

Meutia juga menyoroti banyaknya ajakan poligami di media sosial dalam tiga tahun terakhir. Dia mencontohkan iklan poligami yang menggambarkan suksesnya seorang suami yang menjalankan poligami dengan empat istri dan 25 anak.

“Apakah suami itu ingat tanggal lahir tiap istrinya dan tanggal pernikahan dengan tiap istrinya? Apakah dia ingat tiap tanggal lahir dari 25 anak itu? Peristiwa-peristiwa tentang dirinya dengan setiap anak, apakah dia ingat?” katanya.

BACA JUGA:  Ini Alasan Rifa Handayani Akan Kejar Terus Menteri Berinisial AH Soal Perselingkuhan

Menurut Meutia, praktik poligami akan menghambat terbentuknya keluarga ideal dan harmonis yang berperan dalam mendidik anak-anak. Padahal, dia menambahkan, keluarga seperti itu yang merupakan landasan awal pembentukan karakter anak.

Dalam diskusi yang sama, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga, menegaskan dampak praktik perkawinan poligami untuk perempuan. “Poligami menyebabkan perempuan mendapatkan kekerasan psikis atau jadi tertekan, salah satunya karena merasa tidak diperlakukan dengan adil,” katanya.

Ia juga menambahkan tidak sedikit kasus poligami yang berakhir pada kekerasan secara fisik. Itu sebabnya Menteri Bintang berpesan perlu kesiapan, pemikiran matang dan pengetahuan yang cukup untuk melaksanakan perkawinan poligami.

Senada Profesor Meutia, Menteri Bintang juga prihatin karena masih banyak narasi yang salah mengenai praktik poligami. Melihat banyaknya dampak buruk akibat praktik poligami, dia pun meminta masyarakat untuk tidak menyebarkan konten ajakan poligami di media sosial. “Bukan malah dipromosikan apalagi diromantisasi,” katanya.

Di Indonesia sendiri, sejumlah kalangan dengan tegas menolak poligami. Tak jarang banyak yang menyebutkan bahwa poligami bukan tradisi suatu agama, melainkan bentuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) karena tak sedikit kasus poligami berujung pada kekerasan secara fisik atau verbal.

“Poligami yang tidak dilaksanakan dengan kesiapan, pemikiran matang dan pengetahuan yang cukup dari berbagai pihak dapat berisiko menjadi awal mula terjadi berbagai perlakuan salah,” kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga dalam acara diskusi ilmiah pada Rabu (16/4/2021).

1. Laki-laki yang berpoligami rentan mengalami penyakit jantung dan hipertensi

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa laki-laki yang menikah secara poligami dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan yang menyebabkan kematian, di antaranya penyakit darah tinggi, stroke dan jantung koroner.

BACA JUGA:  Ciri-ciri Suamimu Sedang Dimabuk Wanita Lain, Nomor 2 Bikin Geli...

Hal ini karena suami tidak mampu mengelola stres yang berkepanjangan akibat pembagian tanggung jawab terhadap para istri dan anak-anaknya.

“Makin banyak istri makin stres dan sering menjadi pemicu penyakit jantung dan hipertensi,” ujar Dr. dr. Rahmat Sentika Spa, Mars dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

2. Istri yang dimadu akan stres dan gangguan kecemasan

Perempuan yang dimadu rentan mengalami masalah pada kesehatan mentalnya, di antaranya depresi, gangguan psikosomatis, kecemasan berlebih dan paranoid.

“Poligami menyebabkan perempuan mendapatkan kekerasan psikis atau jadi tertekan, salah satunya karena merasa tidak diperlakukan dengan adil,” kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga.

Akibat perlakuan tidak adil yang diterima, terutama untuk istri pertama rentan mengalami emosi negatif. Hal ini sering terjadi cekcok, permusuhan, kecemasan dan paranoid.

“Istri pertama akan 4 kali lebih menderita dibanding istri kedua, ketiga dan keempat,” begitupun kata dokter Rahmat Sentika dalam acara diskusi yang sama.

Hal ini dikarenakan kebutuhan istri pertama mulai diduakan seiring dengan kehadiran para istri-istri selanjutnya dalam keluarga mereka.

3. Anak bisa kehilangan cita-cita dan harapan

Selain banyak merugikan pasangan perempuan, anak-anak yang lahir dari pernikahan secara poligami juga akan berimbas pada kesehatan mentalnya. Pencapaian akademik menjadi rendah dan anak berpotensi kehilangan daya juang dalam meraih cita-cita mereka.

“Anak-anak juga menderita, sehingga kehilangan daya juang dalam memenuhi cita-cita dan harapannya untuk maju,” kata Meutia Hatta, Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia.

Lebih lanjut ia memaparkan, anak-anak akan lebih sering merasa frustasi dan kecewa akibat kondisi keluarganya, sehingga menghambat kemampuan anak untuk berprestasi di sekolah.

Apalagi jika laki-laki yang berpoligami belum mapan secara finansial, bahkan dalam beberapa kasus ada anak-anak yang sampai putus sekolah karena tidak ada biaya. Hal ini lantaran penghasilan sang Papa harus dibagi-bagi untuk memenuhi kebutuhan para istri serta anak-anaknya yang banyak.

BACA JUGA:  Polri Persilahkan Munarman Ajukan Praperadilan

4. Anak semakin jauh dengan sosok Ayahnya

Peran seorang ayah dalam keluarga poligami sangat sedikit untuk anak-anaknya. Dengan istri yang lebih dari satu, seorang laki-laki akan memiliki banyak anak.

Hal ini membuat interaksi ayah semakin terbatas dengan setiap anaknya secara personal. Artinya ketimbang turun tangan langsung untuk mendidik hal positif, keterlibatan sang ayah hanya sebatas pendisiplin saja untuk anak-anaknya.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Meutia Hatta menyoroti iklan poligami di media sosial yang menggambarkan suksesnya seorang suami yang menjalankan poligami dengan empat istri dan 25 anak.

“Apakah suami itu ingat tanggal lahir tiap istrinya dan tanggal pernikahan dengan tiap istrinya? Apakah dia ingat tiap tanggal lahir dari 25 anak itu? Peristiwa-peristiwa tentang dirinya dengan setiap anak, apakah dia ingat?” katanya.

Menurut Meutia, praktik poligami akan menghambat terbentuknya keluarga ideal dan harmonis yang berperan dalam mendidik anak-anak. Padahal keluarga seperti itu merupakan landasan awal pembentukan karakter anak.

5. Risiko penyakit menular yang akan dialami suami dan para istri

Dilihat dari kehidupan seksualnya, poligami artinya berganti-ganti pasangan. Tak menutup kemungkinan suami maupun semua istrinya akan berisiko terkena penyakit menular seksual.

Di antaranya penyakit kutil kelamin (condiloma acuminata), kencing nanah (gonore), chlamydia trachomatis serta HIV dan AIDS. (den)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%