by

50 Tahun Berpikir Merawat Nusantara, Selamat Milad CSIS!

-Nasional-10 views

Hari ini menandai 50 tahun kehadiran Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia sebagai thinktank terkemuka dalam penasihat kebijakan dan penelitian. CSIS berupaya terus melanjutkan warisan dan menjaga semangat sebagai lembaga kajian berorientasi kebijakan. 50 tahun sudah, CSIS telah melangkah mengikuti arah zaman bersama bangsanya. Sempat ikut mendesain kebijakan politik Orde Baru di masa-masa awal, hingga akhirnya ”dijauhi” Orba, dan kini bersama elemen masyarakat lainnya mengawal konsolidasi demokrasi, CSIS menunjukkan daya lentingnya selama 50 tahun terakhir untuk terus relevan dengan zaman yang bergerak.

CSIS bisa dikatakan institut penelitian kebijakan negara. CSIS lahir pada 1971. Lembaga ini adalah sebuah institusi independen dan bipartisan yang melakukan penelitian kebijakan dan analisis strategis dalam politik, ekonomi, dan keamanan. CSIS juga aktif terlibat dalam kerja sama internasional, termasuk menjadi tuan rumah untuk Komite Nasional Indonesia untuk Kerja Sama Ekonomi Pasifik (Indonesian National Committee for Pacific Economic Cooperation – INCPEC) untuk Dewan Kerja Sama Ekonomi Pasifik (Pacific Economic Cooperation Council – PECC). CSIS juga merupakan salah satu lembaga pendiri Dewan Kerja Sama Eropa Asia (Council for Asia Europe Cooperation – CAEC).

CSIS juga telah menerbitkan berbagai buku dan monograf penelitian dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, seperti The Indonesian Quarterly (sejak 1972), Analisis CSIS (sejak 1971). CSIS bekerja sama dengan Proyek Indonesia dari Universitas Nasional Australia (ANU) untuk menerbitkan dan mendistribusikan Bulletin of Indonesian Economic Studies (BIES).

BACA JUGA:  Nah Lhoh! KPK Koar-koar Soal LHKPN Anggota DPR, Banyak Akal-akalan?

Lembaga ini memiliki sebuah perpustakaan yang berbasiskan topik yang terbuka bagi umum dengan sekitar 50.000 judul buku dan banyak jurnal akademis, serta pelayanan kliping surat kabar dari berbagai surat kabar nasional maupun regional.

Dedikasi Ali Moertopo

Salah satu pendiri CSIS Indonesia yang sangat fenomenal adalah Ali Moertopo. Bagi pecinta dan pegiat dunia intelijen Indonesia, nama Ali Moertopo sangatlah wingit dan disegani. Ia adalah salah satu tokoh intelijen Indonesia yang wahid, selain Benny Moerdani.

Sejak awal Soeharto jadi presiden, Ali Moertopo adalah orang kepercayaannya untuk urusan politik. Posisinya sebelum jadi menteri penerangan tak lebih dari wakil kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN), tapi Opsus atau operasi khusus yang dipimpinnya luar biasa. Sebelum ada Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), di akhir era 1950-an, Ali Moertopo sudah jadi perwira intelijen di Jawa Tengah. Ia juga pernah menjabat komandan kompi Banteng Raider. Ketika Soeharto terlibat Operasi Mandala Trikora pembebasan Irian Barat, Ali Moertopo juga ikut serta.

Ali Moertopo dianggap sebagai orang kepercayaan Soeharto karena—setidaknya menurut Ken Conboy dalam Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia (2007: 42)—“reputasinya sebagai perwira yang mampu memecahkan masalah secara efisien.“

Pada perkembangannya, bersama Soedjono Humardani, karibnya dan sesame asisten pribadi Soeharto, ia merintis berdirinya CSIS. Lembaga ini berperan penting dalam mengendalikan kebijakan Soeharto. Bekerjasama dengan CSIS, Ali menerbitkan buku Dasar-Dasar Pemikiran tentang Akselerasi Pembangunan 25 Tahun. Buku terbitan 1972 ini kemudian diterima MPR untuk merumuskan strategi jangka panjang Indonesia.

BACA JUGA:  DPD RI Minta Presiden Bentuk Tim Khusus Selidiki di Operasi Militer Intan Jaya

Ali mendukung penuh gerakan Soeharto untuk menghabisi PKI. Saat itu, Ali mendukung dan melindungi gerakan mahasiswa yang menginginkan kejatuhan Soekarno. Misalnya, ketika intel Tjakrabirawa memburu para aktivis, Ali menyembunyikan mereka di kantornya markas Komando Tempur II Kostrad, Jalan Kebon Sirih, Jakarta.

Ali Moertopo juga sukses menggagalkan rancangan GBHN yang digagas Nasution dalam Sidang MPRS. Malam hari sebelum Sidang MPRS digelar, Ali dan kelompoknya antara lain Jusuf Wanandi, mendatangi rumah Soeharto. Mereka memberitahukan bahwa rancangan konstitusi dan GBHN yang disusun Nasution penuh jebakan.

“Bapak tak bisa menerima rancangan yang disusun Nasuiton bersama militer yang sangat kanan itu,” ujar Ali.

Ali dan kelompok Tanah Abang juga sukses menggarap Golkar sebagai mesin pemilu Soeharto. Dengan organ-organnya Federasi Buruh Seluruh Indonesia, Himpunan Kerukunan Tani Indonesia dan Komite Nasional Pemuda Indonesia, Golkar sukses meraup angka 63 persen dari total pemilih. Ali juga mengampanyekan bahwa hanya Golkar yang bisa menyukseskan pembangunan dan menjamin stabilitas keamanan. Golkar dalam pemilu 1971 itu, meraup 34,3 juta suara. Meraih 236 kursi dari total 360 anggota DPR. Golkar terus menjadi pemenang pemilu hingga 1998, saat kekuasaan Soeharto berakhir.

Kemenangan Golkar pada 1971 itu diperoleh juga dengan cara menggembosi partai lain. PNI digarap Ali dengan menaikkan Hadisubeno sebagai Ketua umum pada tahun 1970. Partai Muslimin Indonesia juga direcoki oleh pemerintah. Pada Kongres di Malang, 1968, Mohamad Roem terpilih sebagai Ketua Parmusi, tapi oleh pemerintah tidak setujui. Akhirnya partai diambil alih kembali oleh Djarnawi Hadikusumo.

BACA JUGA:  Inalilahi... Gara-gara Ikan ini Mati, Seluruh Negara Berduka Termasuk Presiden...

“Kami thinknya, Pak Ali dan Pak Jono sebagai thank-nya,” kata Jusuf suatu ketika di CSIS.

Dalam masa-masa awal pembentukannya Ali yang mencarikan dana untuk membantu CSIS. Ia banyak menodong para pengusaha untuk menyetor uangnya ke CSIS.

Ali juga sempat mengizinkan rumahnya di Jalan Kesehatan III, Jakarta Pusat, menjadi kantor pusat pertama CSIS, Tiga tahun kemudian CSIS baru bisa berkantor di Jalan Tanah Abang III, kantornya sampai sekarang. Sebelum menjadi kantor CSIS, rumah nomor 27 di Jalan Tanah Abang III itu sering menjadi pusat kegiatan berbagai lembaga yang terkait dengan Golkar.

Waktu bergulir, CSIS kini telah menjadi bagian sejarah panjang Republik ini. Tak hanya sebagai wadah pemikir-pemikir Republik, tapi juga tempat para pegiat ketatanegaraan menuangkan pokok dan gagasan Indonesia ke depan. (*)

Sukses untuk CSIS!

Tim Editorial,

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%