by

Jangan Lagi Sebut Koruptor, Namai Saja ‘Garong’ atau ‘Maling Duit Rakyat’

Praktik korupsi masih menjadi akar persoalan kenapa bangsa Indonesia susah maju. Celakanya, pelaku korupsi justru dari kalangan intelektuil yakni mereka yang pada umumnya memiliki gelar mentereng di bidang akademik. Bekas pengacara yang menjadi pejabat birokrat. Pensiunan PNS yang masih aktif menjabat. Bekas wartawan yang menjadi pejabat birokrat. Bekas apa saja yang memiliki gelar berjejer, justru terlena pada praktik korupsi begitu mereka menduduki jabatan strategis. Berbagai hukuman sebenarnya telah diberikan. Namun masih saja, maling-maling duit rakyat tetap tak kapok. Mereka masih saja mengunyah renyah hak rakyat kecil.

Baru-baru ini, ulama kondang Tanah Air, Muhammad Quraish Shihab sepakat mengganti istilah koruptor menjadi maling atau pencuri. Kalau saya pribadi lebih sepakat jika koruptor dinamai bandit tengik atau garong duit rakyat. Rasa-rasanya mulut saya ingin misuh-misuh dan meludahi wajah-wajah koruptor. Hanya saja, negara kita ini terlalu lemah dan ramah menghadapi kelakuan garong-garong duit rakyat. Alhasil, banyak sekali koruptor yang masih peringas-peringis tak jelas begitu diangkut ke mobil tahanan KPK. Ironis.

Dalam channel Youtube Najwa Shihab, Sang Ayahanda Quraish Shihab berkisah, dalam suatu riwayat di zaman Rasulullah Muhammad SAW pernah seseorang yang bertugas mengelola zakat menyisihkan sedikit untuk kepentingan pribadi.

BACA JUGA:  Sadis! KPK Tetapkan 22 Orang Jadi Tersangka dari OTT Bupati Probolinggo

Nabi berkata, apa yang dilakukannya adalah pencurian alias maling uang rakyat.

“Kata korupsi itu terlalu halus. Yang pas adalah pencuri. Kenapa kalau orang miskin yang mengambil bukan haknya disebut pencuri dan jika pejabat yang melakukan disebut korupsi? Padahal yang dilakuksan sama-sama mencuri,” ujar Quraish Shihab dalam wawancara dengan Najwa Shihab di Kanal YouTube Najwa Shihab yang tayang pada 6 Oktober 2017.

Lebih lanjut Quraish Shihab menjelaskan, Islam mempunyai hukuman tersendiri bagi orang yang melakukan pencurian. Dalam Al Quran, hal itu sama dengan berkhianat.

“…. Barang siapa berkhianat, niscaya pada hari kiamat dia akan datang membawa apa yang dikhianatinya itu..” (QS. Ali Imran (3): 161).

Pada hari kiamat, maling uang rakyat diminta mengembalikan apa yang diambilnya. Dia ditunjukkan, uang yang diambilnya ada di bawah dan harus mengangkat ke atas. Setiap hampir mencapai puncak, uang yang diambil akan jatuh kembali ke bawah. Dia kembali mengambil dan begitu seterusnya.

BACA JUGA:  Imam Nahrawi 'Nyanyi' di Sidang, "Siap-siap yang Merasa Nerima Duit KONI"

Itu cara Allah menyiksa di akhirat kelak.

“Apa hukuman yang pantas bagi pelaku korupsi di dunia?” ujar Najwa Shihab bertanya.

“Harus dipermalukan, karena mereka tidak punya malu. Buktinya, sudah ditangkap mereka masih tertawa-tawa,” ujar Quraish Shihab.

Selanjutnya, masih menurut Quraish Shihab, pelaku pencurian atau maling uang rakyat harus mengetahui, apa yang dilakukannya berdampak pada anak dan cucu. Mereka harus dimiskinkan.

“Tidak hanya diminta mengembalikan sebagian, karena sisa uangnya masih bisa disimpan dan berkembang. Mereka harus dimiskinkan, jika tidak mau diberi hukuman mati seperti di China,” pungkas Qurais Shihab.

Menukil dari ceritera yang dikisahkan Quraish Shihab tersebut, seharusnya para garong duit rakyat tersebut sadar. Betapa kelakuan mereka menyiksa segenap warga Indonesia. Tak hanya rakyat kecil. Kalangan akademisi yang belum terkooptasi kepentingan politik tentu juga sangat marah dengan kelakukan bandit-bandit partai yang korup. Kecuali akademisi atau pengacara kaleng-kaleng yang berkompromi menggunakan almamater gelarnya untuk bermain kadal-kadalan dengan aparat penegak hukum. Perlu diketahui, mafia peradilan justru berasal dari kalangan intelektual dan mampu memanipulasi pasal untuk membela garong-garong duit rakyat. Jauh dari kata berkah atau barokah rejeki.

BACA JUGA:  Wow! Duit Aliran Jiwasraya Dibongkar Komisi III DPR RI
Mantan Hakim Agung, Artidjo Alkostar (Alm). Pendekar antikorupsi yang menjadi idola aktivis dan akademisi antikorupsi di Indonesia.

Praktik maling duit rakyat ini akan terus terjadi jika peradilan dan lingkungan pengacara di Indonesia ramah akan suap. Ramah akan lobi-lobi. Ramah akan korupsi. Reformasi birokrasi menjadi sia-sia adanya jika semua bandit dan maling duit rakyat tak dihukum mati. Butuh keberanian untuk menghukum mati. Mungkin, Artidjo Alkostar (Almarhum) adalah satu-satunya hakim di Indonesia yang berani menghukum maling duit rakyat dengan hukuman setimpal. Apakah ada hakim yang meneruskan perjuangan Artidjo Alkostar di Indonesia? Kita lihat nanti. (*)

 

Head of Editorial Team, 

Yuska.

 

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%