by

Tragedi Lapas Tangerang, Indonesia Bisa Belajar dari Lapas-lapas Paling Manusiawi di Dunia

Tragedi memilukan terbakarnya Lapas Kelas I Tangerang, Banten, pada Rabu (8/9/2021) dini hari tadi, menambah catatan kelam buruknya manajemen pemenjaraan di Indonesia. Ada yang salah dalam merit sistem pembinaan dan kesiapan lembaga dalam menampung narapidana. Kurang manusiawi dan jauh dari kelaziman. Pola pembinaan penjara di Indonesia semestinya dibenahi jauh-jauh hari. Konsep pembinaan sesuai tujuan hukum modern adalah membina, bukan memenjara atau mengurung badan manusia seperti ayam. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI bisa selekasnya merevisi UU Tentang Lembaga Permasyarakatan (Lapas). Paling tidak, hasil studi-studi banding yang telah dilakukan sampai sejauh ini bisa jadi rumusan perbaikan sarana prasarana maupun metode pemenjaraan di Indonesia.

Tewasnya 41 napi di Lapas I Tangerang dalam kondisi mengenaskan terpanggang di dalam sel bukan saja mencoreng wajah Indonesia di mata Dunia. Ini adalah bukti kegagalan negara mengelola keselamatan narapidana yang menjalani proses pembinaan. Catatan yang sangat serius bagi reformasi hukum di Indonesia. Tentunya, yang mesti dibenahi bukan saja instalasi kelistrikan sarpras lapas. Paling urgen adalah meremajakan total lapas di Indonesia. Memang butuh biaya tak sedikit. Tapi, filosofi Indonesia sebagai Negara Hukum tentu menuntut kemapanan dalam aspek berhukum, salah satu yang mesti dipenuhi adalah titik buang napi setelah di pesakitan yakni lapas.

Konsep penjara manusiawi memang masih menjadi kontroversi hingga saat ini. Sebagian penjara dituding masih menggunakan siksaan dengan dalih agar para napi insaf dan tak ingin lagi kembali ke sana. Namun, ternyata ada penjara-penjara yang berhasil menerapkan konsep manusiawi untuk tahanannya. Penjara itu berfokus membina para napi dengan cara yang baik agar mereka menyadari kesalahannya, tak ingin mengulanginya lagi, dan bisa kembali hidup normal di tengah masyarakat.

BACA JUGA:  PPKM Diperpanjang, Angka Kematian Pasien Covid-19 Malah Makin Ambyar, Kenapa?

Bastoy Prison, Norwegia misalnya. Berlokasi di Pulau Bastoy, Oslofjord, penjara ini hanya menampung sekitar 100 narapidana. Uniknya, tak sekadar berisi sel, para napi di sini bisa menikmati berbagai kemewahan, seperti bermain tenis, menunggang kuda, memancing, dan berjemur sinar matahari.

Selain itu, mereka tidur di dalam pondok-pondok yang indah dan terdapat lahan pertanian subur untuk digarap. Pengamanan penjara yang tak begitu ketat pun mungkin membuat para napi di sana lupa kalau mereka sedang dihukum. Dengan segala kemewahan ini, tentu bisa dikatakan perlakuan di penjara Bastoy paling manusiawi di antara penjara lainnya.

Contoh lain adalah Her Majesty’s Prison Addiewell, Skotlandia. Tak bisa dipungkiri fungsi utama penjara adalah membina tahanan agar menyadari kesalahannya, tak mengulang kejahatannya lagi, dan bisa hidup normal di tengah masyarakat. Hal itulah yang dilakukan Her Majesty’s Prison (HMP) Addiewell di Skotlandia selatan. Penjara satu ini berfokus membantu para napi kembali ke masyarakat dengan cara dan tujuan yang baik. Tak heran HMP Addiewell didesain mirip sekolah keterampilan. Alih-alih disiksa, setiap napi justru menghabiskan 40 jam perminggu untuk mengikuti program pengembangan keterampilan produktif. Itu sebabnya bisa dikatakan 700 napi di sini ditangani oleh tangan yang tepat dengan cara yang manusiawi.

BACA JUGA:  DPR Ucapkan Belasungkawa untuk Korban Kebakaran Lapas Tangerang

Dan contoh lainnya adalah Otago Corrections Facility, Selandia Baru. Serupa dengan HMP Addiewell, penjara di Selandia Baru ini juga menggelar kelas-kelas keterampilan untuk para napinya, seperti program pertukangan, peternakan sapi perah, dan memasak. Alih-alih sel yang dingin, sempit, dan pengap, mereka pun beruntung bisa beristirahat di kamar yang nyaman. Namun, meski berfokus pada rehabilitasi tahanan, penjara ini tak mengendurkan penjagaannya sama sekali.

Tak kalah keren adalah Lapas Aranjuez Prison, Spanyol. Setiap napi yang menjalani masa tahanannya tentu harus rela berpisah dengan keluarganya. Tentu hal ini tak mudah dijalani, terutama bagi napi yang punya anak-anak kecil.

Aranjuaez Prison di Spanyol pun mencoba menjembatani masalah ini. Mereka mengizinkan napi orang tua menjalani masa tahanannya bersama anak balita mereka. Namun, jangan dibayangkan anak-anak mungil itu tinggal di lingkungan penjara yang keras.

BACA JUGA:  Politik Give Away : Suara Milenial, Suara Tuhan

Penjara di Spanyol ini dilengkapi boks bayi, tempelan tokoh kartun Disney di tembok, dan area bermain anak-anak. Dengan segala fasilitas tersebut, napi di sana tetap bisa merasakan menjadi orang tua meski tengah jadi pesakitan. Sementara itu, orang tua bagi tahanan yang terlalu muda dipenjara juga diizinkan tinggal di sana.

Kapan Indonesia mereform seluruh lapas-lapasnya agar lebih manusiawi dan membuat napinya ‘lulus’ dengan predikat manusia yang baik? Tentu ini butuh gebrakan yang serius dari Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia (HAM) RI. Presiden Joko Widodo (Jokowi) bisa saja mengganti MenkumHAM yang sekarang menjabat. Toh, sampai sejauh ini, belum ada gebrakan fantastis dari kelembagaan hukum. Kasus napi kabur masih saja terjadi. Kasus napi korupsi yang bebas ke luar masuk lapas masih saja terjadi. Artinya, tidak ada pilot project yang bisa dipercontohkan dan diteladani dari banyaknya kegaduhan itu. (*)

 

Head of Editorial 

Yuska.

Happy
Happy
50 %
Sad
Sad
%
Excited
Excited
50 %
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.