by

Menakar Kekuatan dan Mesin Politik ‘Barisan Celeng Berjuang’

Fenomena Ganjaris dan relawan deklarator ‘Ganjar Pranowo for Presiden 2024′ nampaknya kian masif bermunculan di Jawa Tengah (Jateng) dan sejumlah titik di Indonesia. Gelombang politik yang berangkat dari akar rumput, entah atas inisiasi pribadi atau pesanan ini tentu sedikit banyak akan menjadi boomerang bagi pemetaan politik di internal PDIP.

Pastinya, karena sebagian besar relawan-relawan itu adalah juga kader aktif ‘Partai Banteng’. Pertanyaannya kemudian, seberapa kuat kekuatan dan mesin politik ‘Barisan Celeng Berjuang’ itu?

Sudah menjadi rahasia umum jika Jawa Tengah dijuluki ‘Kandang Banteng’, musababnya karena elektabilitas PDIP di provinsi ini tak pernah tersentuh oleh partai kompetitor mana pun. Hampir di setiap ajang Pemilu, suara PDIP selalu di wahid meduduki peringkat pertama di Jawa Tengah. Ini tentu tak lepas dari faktor histori bahwa Soekarnoisme memang mengakar di hampir seluruh titik kabupaten dan kota di Jateng.

Kaum nasionalis yang menggandrungi ide-ide Soekarno di Jawa Tengah hampir tak tergoda dengan tawaran ideologi dari partai mana pun. Ini bukan pekerjaan mudah bagi elite partai yang ingin bertarung di ‘Dapil Merah’ itu. Selain faktor histori yang erat kaitannya dengan ‘Sejarah kelam PKI dan ceruk suara eksponen komunis’, Jateng juga dikenal sebagai ‘Dapil Kaum Abangan’. Sulit bagi politisi ‘partai-partai putih’ digdaya menggempur dapil tersebut.

BACA JUGA:  Ini Pesan Benyamin Davnie Untuk Pemuda Tangsel Jelang Pelantikan Jokowi-Maruf...

Tak heran jika suara PKS dan PPP ambyar di setiap ajang pemilu, kalaupun PKB masih diterima pemilih di Jateng, itu pun karena basis Nahdlatul Ulama (NU) yang menjadi faktor kultural religi dan dipandang masih moderat dalam menegakkan syariat.

Munculnya Ganjar dalam perhitungan peta politik nasional sebenarnya bukan hal baru yang mengagetkan. Selama menjabat Gubernur Jateng, ia nyaris tak membuat kesalahan serius yang membuat kecewa pemilih. Malahan, antusiasme warga Jateng kian menguat memasuki periode kedua ia menjabat.

Persoalannya, bargaining politik Ganjar lemah di internal PDIP. Faktor lainnya, ada bahasa di internal PDIP kalau ‘Ibu Punya Mau’ yakni menyiapkan Puan Maharani sebagai darah biologis Bung Karno sebagai penerus tongkat kepemimpinan Republik Indonesia (RI).

Publik juga telah membaca dengan jelas maraknya spanduk ‘Kepak Sayap Kebinekaan’ dipasang ke seluruh penjuru Tanah Air. Ini adalah jurus pamungkas menaikkan pamor dan popularitas Puan. Kesalahan fatalnya adalah internal PDIP tak melihat konstelasi akar rumput yang kini tengah menyorot eksistensi Ganjar Pranowo. Malahan, banyak elite dan internal PDIP terkesan ‘memusuhi’ Ganjar. Ini jelas menjadi kesalahan fatal.

BACA JUGA:  Bikin Kaget! Klarifikasi Dubes Palestina Terkait Kedatangannya di Deklarasi KAMI

Dengan sentimen negatif tersebut, para relawan Ganjar dan barisan internal PDIP yang hari-hari belakangan sakit hati terhadap kebijakan DPP PDIP akhirnya menjadikan Ganjar Pranowo sebagai simbol perlawanan. Terlebih lagi, banyak kaum oposisi yang akhirnya melihat peluang ini sebagai sebuah momentum untuk memukul dan menampar politik dinasti yang belakangan hari menjadi sorotan.

Kita tentu masih ingat fenomena ‘lahirnya’ Joko Widodo (Jokowi) di panggung politik nasional, 2014 silam. Ia bukan saja dieluk-elukkan sebagai tokoh sipil dan representasi ‘wong cilik Indonesia’ saja. Magisme Jokowi menyulap paradigma politik benar-benar menjadi hak semua umat sukses terjadi.

Rakyat nampaknya tak melihat dari partai mana Jokowi berasal. Toh, nyatanya Jokowi berhasil melibas seluruh survei elektabilitas. Malahan, elektabilitas Ketua Umumnya sendiri, Megawati Soekarnoputri kala itu, mangkrak dan tak menjanjikan jelang Pilpres 2024. Akhirnya, PDIP legowo memberi restu Jokowi maju di Pilpres 2014.

BACA JUGA:  Berikut Daftar Nama Awak KRI Nanggala 402 yang Belum Ditemukan...

Fenomena Ganjaris-ganjaris dan Barisan Celeng Berjuang ini berkemungkinan persis seperti apa yang terjadi di Pilpres 2014 silam. Barisan celeng berjuang bisa saja booming menjelang Pilpres 2024 mendatang. Ini akan menjadi petaka bagi PDIP jika tak segera dimonitor dan dikendalikan secara masif dan preventif.

Perpecahan internal jelang pilpres tentu akan berdampak serius pada raihan PDIP di Pilpeg 2024. Kader dan mesin partai di akar rumput akan lebih berkonsentrasi menyokong dan menyiapkan Ganjar Pranowo sebagai capres ketimbang susah payah mempertahankan gelar sebagai ‘The Ruling Party’. (*)

 

Head of Editorial, 

Yuska

Happy
Happy
25 %
Sad
Sad
%
Excited
Excited
50 %
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
25 %

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.