by

PDIP Sudah Siapkan Puan Maharani untuk Nyapres

Rapat Koordinasi (Rakor) Pra-rakernas PDIP yang dihadiri pentolan DPC dan DPD dari seluruh penjuru Indonesia, hari ini, menjadi pemanasan awal penyiapan mesin partai politik (parpol) besutan Megawati Soekarnoputri itu untuk menghadapi jalan terjal Pemilu 2024. Ada dua¬† hajatan penting di Pemilu 2024 mendatang: Pileg dan Pilpres. Isu yang mengemuka di kepala publik hari ini adalah siapakah yang dipersiapkan PDIP untuk ‘manggung’ di Pilpres 2024?

Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto secara tegas mengatakan bahwa sampai hari ini, DPP tak berfokus pada siapa yang akan diusung nantinya. Meskipun, dualisme antara Ganjar Pranowo dan Puan Maharani sudah mengemuka ke telinga masyarakat. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Puan Maharani adalah darah biologis Soekarno untuk merawat panggung kepemimpinan di Indonesia, paling tidak untuk dua dekade ke depan.

Ini bukan persoalan mudah. Tingkat kesukaan publik terhadap cucu Soekarno itu terlihat masih sayup dan nampak redup. Tergilas oleh nama besar Ganjar Pranowo yang hari-hari ini mulai didengungkan oleh buzzer dan netizen di sosial media. Tak jelas apa yang membuat Puan Maharani kurang disukai publik. Ini membutuhkan riset khusus terkait alasan kenapa Puan kurang diminati jika menjadi capres atau cawapres. Ada baiknya, PDIP mulai ancang-ancang melakukan riset mendalam agar bisa mendiagnosa dan mengobati rasa ketidaksukaan itu.

BACA JUGA:  Geger Bantuan Ganjar Dikembalikan Gegara Dijadikan Konten Pencitraan, PDIP Jawab Enteng Begini

Yang menarik dari Rakor Pra-rakernas PDIP hari ini justru munculnya deklarasi Puan Maharani For Presiden 2024 di sejumlah daerah. Sudah bisa ditebak. Ini tentu adalah loyalis garis keras di internal PDIP yang nyata-nyata pro terhadap Megawati Soekarnoputri. Karena belakangan, mulai ada gerakan membelot yang ditunjukkan sejumlah internal PDIP dengan cawe-cawe dukungan terhadap Ganjar untuk maju di Pilpres 2024.

Suka tidak suka, nampaknya Ganjar dan loyalis setianya harus bersiap menelan pil pahit dengan merelakan PDIP memajukan Puan Maharani. Alasan logis politisnya adalah Puan Maharani bukan sekedar politikus PDIP yang saat ini menjabat Ketua DPR RI saja. Alasan historis menjadi alasan utama kenapa Puan Maharani menjadi harga mati mentas di Pilpres mendatang.

Megawati sudah habis masa untuk maju di Pilpres 2024 mendatang. Sama halnya dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang pada akhirnya menyerahkan tongkat politiknya kepada anaknya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Regenerasi biologis dalam dunia politik sudah menjadi rahasia umum. Jika SBY punya Agus. Maka Mega punya Puan. Dan di sinilah harga tawar Ganjar menjadi rendah ketika oportunitas politik dibenturkan dengan faktor biologis. Ganjar bukan representasi trah raja atau penguasa parpol. Sama halnya dengan Jokowi.

Ia hanya tokoh yang disukai publik, namun bargaining posisi di partai tak begitu kuat. Lagi-lagi, ini menjadi konflik yang pasti akan berujung. Ada waktunya Ganjar dan loyalisnya akan menentukan sikap. Tetap bertahan di PDIP dengan merelakan dukungan ke Puan Maharani. Atau hengkang dari PDIP dengan peluang akan disokong oleh partai-partai lain yang kurang sreg dan kecewa dengan Koalisi PDIP-Gerindra kelak. Waktu akan menjawab semuanya. (*)

 

Analyst by Head of Editorial,

Yuska.

Happy
Happy
33 %
Sad
Sad
%
Excited
Excited
33 %
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
33 %

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.