by

Cita-cita kok Jadi Pegawai, Katanya Merdeka…

Beberapa hari ini, saya menyelami dan mendalami buku garapan Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto yang bertajuk Paradoks Indonesia’ kiriman dari seorang teman yang kini dekat sekali dengan Menteri Pertahanan (Menhan) RI. Saya sebenarnya sudah tahu buku itu sejak Prabowo maju di Pilpres 2019 lalu. Namun, waktu itu, saya belum tertarik mencari dan membaca buku itu untuk menghindari semangat membaca yang partisan di tahun politik. Prabowo tentu mengeluarkan buku itu bukan saja atas motif politik. Tapi juga atas kejengkelannya melihat kesenjangan ekonomi di Indonesia yang kian kentara.

Saya menarik kesimpulan sederhana setelah membacanya: Kita ternyata belum merdeka sebagai warga negara. Prabowo nampak berusaha menumpahkan konsepsi merdeka yang sebenarnya di dalam bukunya itu. Saya tak melihat Prabowo memiliki semangat oligarki dalam pikirannya di buku tersebut. Ia menumpahkan pikiran patriotiknya dengan prihatin melihat kondisi bangsanya yang terjajah dari segi ekonomi. Terjajah karena mental miskin yang serba tergantung. Terjajah karena ketidakberanian generasi-generasinya untuk memulai hal-hal baru.

Saat membaca buku Prabowo itu, seketika saya mendadak bernostalgia membayangkan diorama kehidupan akademik kampus yang merdeka berpikir. Liberalis. Patriotik. Sedikit heroik. Khas cara berpikir para kaum libertarian yang digandrungi para aktivis dan akademikus. Empat belas tahunan yang lalu, saat saya masih bersemangat menjadi aktivis mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Tengah. Semangat spartan libertarian itu teringat masih menggelora. Reformis. Dan berambisi mengubah segala bentuk kekurangan yang ada dalam lingkungan sekitar. Setidaknya, ambisi itu masih ada sampai kini.

BACA JUGA:  Pengamat Politik: Framing Tempo Terhadap Prof. Hendropriyono Menyesatkan

Semangat spartan libertarian aktivis-aktivis kampus di Indonesia yang reformistik itu nampaknya terkikis seiring perjalanan waktu. Usia bertambah. Kebutuhan hidup menumpuk setelah lulus dari kampus. Terlebih, bagi aktivis yang sudah berkeinginan kawin muda. Pastilah euforia semangat memikirkan hal-hal utopis bagi negara mulai menurun. Semangatnya tentu mengikuti arus kebutuhan hidup untuk menapaki nasib masing-masing. Lulus kuliah, kawin, kerja dan dapat gaji. Ini mungkin dialami semua aktivis di Indonesia kebanyakan.

Prabowo lewat bukunya itu nampaknya ingin menampar semangat generasi-generasi muda kampus yang mengalami distorsi. Saya sebut distorsi karena semangat kebebasan aktivisme telah luntur setelah mendapat gelar sarjana. Lalu berubah menjadi semangat pekerja atau pegawai yang inginnya digaji bulanan. Dibudak besaran upah berbasis jam kerja yang sejatinya tak bisa menjamin hari-hari tua. Semangat budak seperti ini memang dialami mayoritas lulusan sekolah, terutama lulusan kampus bermazhab konservatif dengan orientasi lulus lalu diarahkan sebagai pekerja bukan pengusaha. Jarang sekali kampus di Indonesia yang mau mengarahkan mahasiswanya untuk berpikir mandiri dan merdeka berkarya setelah lulus.

BACA JUGA:  Belajar Baik

Prabowo dalam bukunya itu, juga nampak memberi semangat kepada generasi-generasi milenial agar berpikiran progresif dan berwawasan global dalam melihat peta kepentingan industri. Indonesia yang katanya disebut kaya, sedianya harus benar-benar bisa membuat kaya penduduknya. Bukan hidup dengan semangat budak atau pekerja. Kunci utamanya tentu adalah pandai memanfaatkan peluang dan mendalami kepentingan pasar. (*)

Penulis: 

Yuska Apitya Aji, S.Sos.,M.H.

 

 

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.