by

Kisah para Penulis di Balik Buku ‘Hidup Dalam Bingkai Puisi’ Garapan Cilebut Art Project

Pramoedya Ananta Toer pernah mengatakan “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Quote tersebut agaknya selalu cocok untuk siapapun yang memberanikan diri untuk menulis, apalagi sampai menerbitkan buku adalah sebuah perjuangan untuk ambil bagian dalam peradaban literasi.

Salah satu gerakan baik tersebut juga dilakukan oleh Cilebut Art Project (CAP), sebuah komunitas seni dari Cilebut Barat kabupaten Bogor adalah menerbitkan buku bersama anggotanya.

Hidup Dalam Bingkai Puisi” adalah buku perdana kumpulan puisi Cilebut Art Project yang menceritakan bagaimana kisah hidup para penulis dari sudut pandang masing-masing yang dikemas dalam bentuk puisi.

BACA JUGA:  Antusiasme Vaksinasi untuk Komunitas Penyintas HIV/AIDS di Serang

Menulis bersama bukanlah perkara mudah karena harus menggabungkan banyak kepala dalam satu buku, namun CAP membuktikan keseriusannya dalam menggarap buku perdana ini.

“Kami menerbitkan buku ini sebagai pemantik dan ikhtiar kami untuk belajar menulis. Dimulai dari membaca dan menulisnya, dengan sebuah motivasi bahwa proses belajarnya terus berlanjut tidak berhenti sampai disini,” tutur Zody Prasetyo founder Cilebut Art Project.

CAP yang berdiri sejak 30 November 2018 ini mewadahi dan menghimpun pemuda-pemudi desa untuk produktif berkarya berhasil menyusun antologi puisi yang ditulis oleh 14 penulis dengan ratusan puisi yang dihadirkan. Penulis-penulis tersebut adalah Beler, Iki, Adinda Futriansyah, Tuan Terkuat (Bima Ramadhan), Sarah Nurfadilah, Nava Mileniasari, Hadi Nashrulloh, Zody Prasetyo, Tri Arga Purnama, Elsa Azzahra, Nurwanda Alia, Fani Ismail, Dhomino, Budi.

BACA JUGA:  Masuk Jajaran Dewan Penasehat DPP Mapancas, Wagub Banten: Kobarkan Optimisme Hadapi Pandemi!

“Satu penulis menulis lebih dari satu puisi, ada yang dua, bahkan ada yang lebih dari sepuluh. Puisi-puisi yang ada di “Hidup Dalam Bingkai Puisi” ini mewakili kehidupan kita, artinya bukan hanya yang dirasakan oleh penulis, tapi mewakili perasaaan dan pengalaman banyak orang,” Kata Zody yang belum lama ini menggagas Kemah Seni Festival.

Zody berharap buku ini dapat diterima banyak orang.

“Buku ini menjadi semangat untuk kami agar kembali menulis dan mengeluarkan karya-karya lagi. Untuk pembaca, semoga pesan yang dibuat kami dalam buku ini tersampaikan dengan baik. Semoga buku ini menemukan pembacanya sendiri yang entah darimana, semoga dipertemukan dengan cara yang baik,” harapnya.

BACA JUGA:  Mengintip PKM Prodi Kebidanan Universitas Gunadarma Depok, Ini yang Dibahas

Ia juga menambahkan, bagi pembaca yang ingin memiliki dan membaca buku “Hidup Dalam Bingkai Puisi” bisa menghubungi Instagram @cilebutartproject atau menghubungi penerbit @narulispublisher dengan harga empat puluh lima ribu rupiah. (Eka Ardhinie)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.