by

Menwa, antara Warisan Militerisme Orba dan Senioritas Utopis!

Namanya Gilang Endi Saputra. Usianya baru beranjak 21 tahun. Ia tercatat sebagai mahasiswa Universitas Negeri Surakarta (UNS). Ia mungkin akan dikenang sebagai tokoh. Jika boleh berlebihan, ia mungkin juga akan dikenang sebagai ‘Pahlawan Revolusi Kampus’. Hari-hari belakangan, namanya viral bukan main di jagad maya. Milenial yang getol bermain peran di dunia keaktivisan kampus tentu akan terngiang-ngiang mendengar nama Gilang Endi Saputra.

Gilang tewas saat mengikuti pendidikan dan pelatihan dasar (Diklatsar) Resimen Mahasiswa (Menwa) di kawasan Jembatan Jurug, Kecamatan Jebres, Solo, Minggu 24 Oktober 2021 lalu. Saat pelatihan, mahasiswa Prodi Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Sekolah Vokasi UNS itu mengeluhkan rasa sakit. Tak lama kemudian, ia meninggal dunia. Kasus meninggalnya diduga karena kekerasan dan ditemukan luka lebam di tubuh jenazah. Praktik pelonco yang dialami Gilang nampaknya tak hanya terjadi di UNS saja.

Praktik senioritas bergaya ala-ala militerisme zaman Orde Baru seperti yang diterapkan resimen mahasiswa (menwa) hari-hari ini semestinya disudahi. Jika perlu, bekukan semua organisasi kampus yang menjurus pada kekerasan atau penjajahan fisik. Kekerasan dan perpeloncoan fisik sudah tak lagi dipakai sebagai indikator kemajuan dunia pendidikan. Kita semestinya belajar banyak dari sistem pendidikan barat yang jauh-jauh hari meninggalkan mode senioritas utopis macam menwa. Lihatlah Inggris dan Amerika Serikat (AS) yang hari-hari ini mengisi jajaran kampus ternama Dunia. Mereka meninggalkan budaya perpeloncoan.

BACA JUGA:  Kampus-kampus di Tangerang Keluhkan MBKM, DPR Minta Nadiem Ambil Sikap

Saya pribadi mengalami ‘praktik senioritas utopis’ macam menwa itu ketika masuk salah satu universitas negeri di Jawa Tengah. Tak sedikit senior saya yang dengan seakan-akan bengis, memberlakukan ‘penjajahan fisik’ dalam kegiatan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek). Doktrin senioritas utopis bergaya ala-ala militer nampaknya memang mendidik dan mengarahkan pada praktik kekerasan. Bukan kedisiplinan. Sedikit berbeda ketika saya masuk menjadi mahasiswa kampus swasta yang notabene senioritasnya lebih moderat dalam membina adek-adek juniornya.

Kita tentu sangat mengapresiasi rektor yang hari-hari ini menutup dan memvakumkan kegiatan organisasi kampus yang mengarah pada ‘senioritas utopis’ macam menwa itu. Harus kita akui, eksistensi organisasi kemahasiswaan memang penting untuk melatih mahasiswa pada kedisiplinan serta tanggungjawab posisi. Harapannya, tentu ketika lulus kuliah nanti, agar paham bagaimana menempatkan diri sesuai posisi dan jabatan dalam dunia pekerjaan profesional.

BACA JUGA:  DPD RI Minta Presiden Bentuk Tim Khusus Selidiki di Operasi Militer Intan Jaya

Namun belakangan, terdengar kabar bahwa senioritas di lingkungan kampus memang sudah terlanjur disalahgunakan. Meniru gaya Orde Baru yang militeristik. Menjajah pikiran junior dan lebih parah adalah melecehkan. Ini jelas butuh perhatian khusus dari Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim.

Ada bagusnya, konsep ‘Kampus Merdeka’ yang digembar-gemborkan Nadiem bukan hanya sebatas slogan yang berakhir pada desain postingan sosial media saja. Namun, konsepsi ‘Kampus Merdeka’ itu harus benar-benar diimplementasikan sesuai manifesto kemerdekaan kampus.

Tak lucu ketika calon mahasiswa yang hendak masuk ‘Kampus Merdeka’ justru dijajah dahulu oleh seniornya. Sehingga begitu selesai ospek mereka harus takut dan tunduk di ketiak senior. Ini praktik ngawur dan keblinger. Harus disudahi secepatnya. Pesan saya untuk adek-adek calon mahasiswa baru, jangan takut melawan senior yang utopis dan abal-abal macam dunia militer. Kalau menemukan kejanggalan praktik senioritas abal-abal, jangan takut lapor ke aparat kepolisian. Kumpulkan bukti dan rekam video pelanggarannya. Jadilah mahasiswa yang kritis pada keadaan.

BACA JUGA:  Menhan RI-Australia Sepakat Bahas Kerjasama Pertahanan

Dunia kampus bukan dunia militer yang menuntut kita untuk satu suara tanpa diskusi dan perdebatan akademis. Patuhlah pada senior yang memiliki karakter membina dan mengarahkan pada hal-hal baik. Bukan membinasakan atau mengarahkan pada praktik kebengisan dan kekerasan!. (*)

 

Head of Editorial, 

Yuska Apitya Aji. S.Sos, M.H

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
100 %

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.