by

Menyinggung Hukum dan Pengetahuan

Hukum bisa kita anggap sebagai sebuah peraturan atau sistem tertulis atau tidak tertulis yang diambil dari sumber atau beberapa sumber, digunakan sebagai tata kelola sebuah kehidupan bagi prilaku manusia yang sudah di sepakati bersama pada sebuah kelompok, pemerintahan, negara, atau antar negara, di samping itu pula hukum memiliki kaidah-kaidah tertentu dalam pelaksanaanya.

Sementara Ilmu pengetahuan adalah hal ihwal yang di anggap mengikuti aturan atau disiplin disiplin pengetahuan yang secara reel telah di akui bersama kebenarannya mengenai berbagai ihwal di dunia ini, yang secara subjektif di ikat oleh integritas dan kredibilitas dan secara objektif terbebas dari semua batasan-batasan hukum kemudian secara empiris memiliki realitas ideal.

lalu bagaimana menyikapi kedua hal ini (Hukum dan Ilmu pengetahuan) ketika keduanya bersinggungan, di taraf ini seolah olah Hukum berkata “Saya adalah Hukum tidak peduli pada Ilmu pengetahuan jika secara kausalitas tidak bisa di buktikan.” sementara Ilmu pengetahuan menjawab “Kamu adalah Hukum yang secara sadar harus mengakui bahwa Kamu Hukum adalah prodak Ilmu Pengetahuan yang berupa hipotesa.

Sebagai ilustrasi saya akan paparkan sebuah kisah.

Suatu kali, Seorang pemimpin yang adil dan bijaksana berkeliling di daerah kekuasaannya, lalu beliau melewati kawasan permukiman, kebetulan dihuni penduduk yang beragama minoritas, tapi secara Hukum yang berlaku, Penduduk ini termasuk kaum yang memeroleh perlindungan negara.

Tiba-tiba, Pemimpin yang adil dan bijaksana itu melihat ada sebuah baju zirah dijemur di depan salah satu rumah. lalau beliaupun menghampirinya.

Pemimpin yang adil itupun memerhatikan baik-baik keadaan baju zirah itu. Sesudah itu, beliau merasa yakin bahwa benda itu (baju zirah) miliknya yang telah Hilang.

Sesudah memimpin shalat subuh berjamaah, sang pemimpin adil dan bijaksana itu kembali lagi ke rumah itu. beliau lantas mengetuk pintu. Keluarlah si pemilik rumah.

“Wahai fulan, bagaimana keadaanmu?” tanya Pemimpin yang adil dan bijaksana itu.

“Baik-baik saja, wahai pemimpin negara,” jawab si pemilik rumah.

Sang pemimpin yang adil dan bijaksana itupun kemudian menunjuk pada baju zirah yang sedang dijemur. “Aku melihat ada baju zirah di depan rumahmu. Apakah itu kepunyaanmu?” selidik beliau kepada pemilik rumah itu.

“Baju itu dijemur di rumahku. Tentu saja baju zirah itu kepunyaanku,” terang pria pemilik rumah itu.

“Tapi aku yakin baju ini milikku,” tegas sang pemimpin yang adil dan bijaksana itu, beliau lantas menunjukkan beberapa ciri yang memang terdapat pada pakaian tersebut.

BACA JUGA:  Polri Butuh Komitmen Penguatan Pengawasan dan Perbaikan Mental Pendidikan

Pria itu toh tetap bertahan pada argumentasinya. Pemimpin yang adil dan bijaksana itupun kemudian mengajaknya ke pengadilan saat itu juga.

Sampailah keduanya di gedung pengadilan, kemudian eduanya masuk. Dengan mata kepalanya sendiri pria itu melihat tidak ada perlakuan khusus terhadap sang pemimpin yang adil dan bijaksana itu.

Begitu Sang pemimpin yang adil dan bijaksana itu mengucapkan salam, seisi ruangan menjawabnya. Sesudah itu, tidak terjadi apa-apa.

“Wahai Pemimpin negara, silakan mengantre,” kata hakim.

Sang pemimpin yang adil dan bijaksanapun menuju ke barisan antrean dari yang paling belakang. Beberapa lama kemudian, beliaupun bisa mendaftarkan perkaranya.

Tibalah giliran kasus keduanya.
Singkat cerita, Di hadapan mereka, sang hakim bertanya, apa pokok persoalannya?

“Saat aku sedang berjalan di depan rumah dia (si pria) itu, aku mendapati sebuah baju zirah sedang dijemur. Setelah mengamati baik-baik, aku yakin betul baju tersebut adalah kepunyaanku,” terang Sang pemimpin yang adil dan bijaksana itu.

“Bagaimana menurut engkau?” tanya sang hakim kepada si pria.

“Baju itu berada dan dijemur di rumahku, wahai Hakim. Aku mengatakan, baju perang itu adalah milikku semua orang mengetahuinya,” tegas pria itu kepada Hakim.

“Apakah engkau bisa menghadirkan saksi-saksi yang dapat menunjukkan, itulah baju perang engkau?” tanya Hakim kepada Sang pemimpin yang adil dan bijaksana itu.

“Yang tahu bahwa baju itu kepunyaanku adalah kedua anak-anakku, serta istriku,” ujar sang pemimpin yang adil dan bijaksana itu!

“Wahai tuan, bukankah engkau tahu bahwa menurut hukum negara ini, kesaksian anak atas orang tuanya–atau orang tua atas anaknya–tidak dapat diterima? Yang satu akan cenderung membenarkan yang lainnya. Kini yang tersisa dari para saksi engkau adalah satu orang perempuan, yakni istri engkau. Sementara, hukum negara ini mengharuskan, jika tidak ada dua orang saksi laki-laki, maka boleh (diganti menjadi) satu orang laki-laki dan dua orang perempuan. Adakah mereka itu?” tanya Hakim kepada sang pemimpin yang adil dan bijaksana itu.

Sang pemimpin yang adil dan bijaksana itu sejenak berpikir dan kemudian berkata, “Tidak ada.”

Dengan demikian, sang hakim mengetok palu. Dia memutuskan, baju perang itu adalah milik si pria itu. Sidang pun selesai.

Kebetulan, sidang tersebut merupakan yang terakhir di jadwal hari itu. Maka sang hakim pun turun dari kursi kebesarannya, untuk kemudian menyalami sang pemimpin yang adil dan bijaksana itu, hakim itupun berkata kepada beliau “Aku tidak ragu dengan apa yang Anda katakan bahwa baju besi ini milik Anda. Tapi, Anda harus punya bukti untuk meyakinkan kebenaran yang Anda katakan, minimal dua orang saksi.”

BACA JUGA:  Tidak Semua Pembelaan Terpaksa Lepas dari Pidana

Singkat cerita, berjalanlah keduanya meninggalkan ruang sidang, sementara si pria tadi berdiri kebingungan. Dia bingung, sebab belum pernah dalam hidupnya mengalami sistem dan akhlak kepemimpinan yang adil seperti itu.

pria itupun berlari menyusul sang pemimpin yang adil dan bijaksana dan sang hakim. “Wahai, Tuan-tuan, tunggu sebentar!”

“Ada apa?” tanya sang pemimpin yang adil dan bijaksana itu keheranan.

“Apakah sudah selesai pengadilan ini?” tanya si pria.

“Tentu saja. Baju itu milikmu, meski aku yakin betul baju itu milikku. Tetapi hukum sudah memutuskan, ya sudah,” jelas sang pemimpin yang adil dan bijaksana itu yang disaksikan sang hakim.

“Sungguh, wahai pemimpinku. Baju perang ini adalah milikmu. Aku menemukannya dua hari yang lalu,” terang pria itu kemudian.

“Mengapa tidak engkau ungkapkan itu di pengadilan?” tanya sang hakim.

Orang Yahudi itu lantas menuturkan, sejak awal dia terus memerhatikan. Hingga akhirnya dia menyadari, betapa mengagumkannya sistem hukum negara itu dan pemimpinnya.

Sebagai orang yang lama tinggal di daerah koloni dan sebagai minoritas, pria itu dan kaumnya terbiasa dengan perilaku yang sewenang-wenang dari penguasa dan negara.

pria itu menuturkan, seandainya berperkara dengan raja dari kalangan terdahulu–sebelum pemerintahan yang tuan pimpin (kepada sang pemimpin yang adil dan bijaksana) masuk ke daerah ini–maka bisa saja baju tadi atau apa pun yang dimilikinya direbut secara paksa oleh penguasa. Sebab, rakyat sudah dibuat tak berkutik, apalagi masyarakat yang dari kalangan tidak seiman dengan raja.
Namun, ternyata tuan tidak begitu. Sebagai pemimpin, tuan justru mengajaknya ke pengadilan. Sesampainya di gedung pengadilan, tuan sendiri diperlakukan biasa saja, padahal jelas-jelas tuan seorang Pemimpin negara. Tetap saja tuan mengantre sebagaimana masyarakat umumnya.
Itu tidak mungkin terjadi pada era sebelum kedatangan pemerintahan ini. Si pria itupun mengungkapkan, para hakim dan aparat saat itu mesti taat sebagai bawahan raja. Mereka pasti mengistimewakan raja di atas orang-orang biasa.

Si pria itu lebih kaget lagi ketika tadi Hakim menolak kesaksian pemimpin yang adil dan bijaksana itu. Dia baru tahu, dalam hukum negara ini, kesaksian diatur sedemikian perinci untuk memastikan keadilan ditegakkan.

Tidak bisa seorang anak menjadi saksi atas orang tuanya. Karena itu, sang pemimpin yang adil dan bujaksana itu tidak mampu menghadirkan saksi-saksi lain yang diminta, sehingga keterangan sang pemimpinpun tertolak.

BACA JUGA:  Masyallah...Bejat Banget! Bayi Dibuang, Dibungkus Dus Kompor Gas Bekas

kemudian si pria itu berkata “Maka saksikanlah oleh Tuan-tuan sekalian, aku beriman kepada yang tuan-tuan imani dan mengikuti iman kalian,” kata pria itu. sang pemimpin yang adil dan bijaksana dan sang hakim pun berseru atas kebesaran Tuhannya.

Kesimpulan :
‘Hukum’ itu tidak bisa di halang oleh ‘ilmu’ dan ilmu tidak akan pupus sampai akhir zaman.”

“Hukum dan ilmu itu berjalan beriringan tapi kadang kala keduanya bersinggungan, namun kedua duanya benar dan tidak tercela.”

Ketika keduanya bersinggungan manakah yang harus di taati? maka taatilah hukum namun itu juga tidak berarti ilmu menjadi tidak berguna.

Menambahkan :
Ketika Nabi Allah Yusuf AS didakwa atas tuduhan perbuatan Asusila kepada seorang perempuan dengan bukti bukti yang cukup dan mengarah padanya menurut hukum yang berlaku pada masa itu, beliau mentaati keputusan Hukum dengan lapang dada dan tidak berputus asa, meski dipandang dari syarat-syarat pengetahuan subjektif (integritas dan kredibilitas) ia benar, namun beliau hanya berkata “Jika kehidupan di dalam penjara lebih baik untuku daripada hidup di luar sana maka saya Ridho.” Hingga akhirnya Allah SAW menentukan ketentuan lain, membersihkan Namanya dengan Memunculkan bukti-bukti baru yang membuatnya bebas dari semua tuduhan itu.

Wallahu alam bisawab…

Catatan :
Sebenarnya kisah di atas adalah kisah kepemimpinan Sang Khalifah Ali Bin Abi tolib dalam memimpin negara dan menegakan keadilan yang dikutip dari berbagai literatur dan buku-buku, dengan persi dan redaksi yang berbeda-beda dengan maksud yang kurang lebih sama. Mengingat ada berbagai pendapat mengenai kesahihannya kisah ini, maka saya berinisiatif untuk tidak menyebutkan nama dalam pemaparan kisah di atas untuk menghindari perselisihan/hilafiyah, namun saya tetap menceritakan kisah di atas sebagai ilustrasi supaya kita tetap bisa mengambil ibroh atau hikmah, tanpa mengurangi ketaziman dan kecintaan saya kepada keluarga sekaligus menantu baginda Rosulullah SAW dengan bersolawat sepanjang nafas saya. Semoga Allah subhanahuwataala mengampuni dan memaafkan saya jika inisiatif ini menyalahi. (*)

 

Penulis: Mamah Abdurohman, Mahasiswa Universitas Sutomo. **)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
100 %
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.